Kesalahan-kesalahan yang perlu di waspadai – Warren Buffett
“Kami tidak pernah melihat ke belakang. Kami hanya membayangkan ada begitu banyak yang dapat diharapkan di depan sehingga tidak ada alasan memikirkan apa yang seharusnya kami lakukan di masa lalu. Itu tidak akan menghasilkan perbedaan apa pun. Anda hanya dapat menjalani kehidupan ini dengan terus maju”
Warren (orang terkaya kedua setelah Bill Gates) tidak pernah menyesal dalam bisnis, hidup, maupun investasinya. Dalam dunia investasi, selalu ada beberapa investasi yang terlewati, beberapa saham yang naik yang tidak Anda miliki. Jika Anda menjual sebuah saham lalu harganya terus naik, Anda dapat menghukum diri sendiri selama berbulan-bulan. Jika Anda tidak menjualnya dan harga sahamnya merosot, Anda dapat menghukum diri sendiri dan lainnya selama bertahun-tahun. Hal yang sama berlaku dalam keputusan bisnis-jika Anda membuat seratus keputusan lalu sepuluh ternyata merupakan keputusan yang buruk, Anda dapat terus terobsesi dengan kesalahan yang Anda buat sehingga mengabaikan keputusan-keputusan baru yang perlu Anda buat.
Dalam dunia investasi, setiap hari menghadirkan sekelompok keputusan baru secara berurutan tanpa ada habis-habisnya. Anda tidak perlu memfokuskan pada kesalahan-kesalahan Anda lebih dari sekedar belajar darinya. Yang perlu Anda lakukan adalah menerapkan pelajaran-pelajaran yang Anda pelajari itu ke dalam masalah-masalah yang ada hari ini. Dalam permainan investasi, Anda akan melakukan kesalahan yang tidak terhitung banyaknya dengan tidak mengambil tindakan ketika seharusnya Anda melakukan sesuatu, dan tidak satupun darinya merugikan Anda. Sebaliknya, kesalahan-kesalahan dalam tindakan yang Anda ambil itulah yang harus Anda perhatikan, dan semua itu akan Anda temukan dihadapan Anda.
Produk atau sistemnya?
Mungkin cara termudah untuk membedakan apakah seseorang berjiwa pemilik bisnis, karyawan atau berjiwa penjual/salesman adalah dari pemahamannya tentang mana lebih penting Produk atau Sistem. Teori ini saya dapatkan dari buku karangan Robert T Kiyosaki berjudul The Cashflow Quadrant: Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial. Menurut Robert, seorang penjual atau salesman membutuhkan produk yang bagus untuk dijual sehingga ia selalu menganggap produk adalah yang terpenting. Sedangkan pemilik bisnis lebih mementingkan sistem yang baik walaupun tidak mengesampingkan faktor produk yang baik.
Anda pasti mengenal brand / franchise terkenal seperti KFC, Dunkin Donuts, MacDonald atau mungkin Anda pernah makan di resto atau cafe yang setiap pegawainya tersenyum dan menyapa Anda ketika Anda lewat. Anda mungkin tertarik dengan keramahan mereka, kemudian Anda diantar dan dipersilahkan duduk di ruangan yang nyaman. Kemudian Anda disuguhi daftar makan dan memesan beberapa makanan yang bernama kebarat-baratan. Mungkin setelah Anda makan Anda berpikir bahwa makanan seperti ini bisa Anda dapatkan di warung makan biasa dengan rasa lebih enak dan tentunya harga lebih murah. Namun mengapa resto atau cafe tersebut masih bisa bertahan dan meningkatkan labanya?
Saya yakin ada banyak orang yang bisa membuat ayam goreng lebih lezat dari KFC, atau bisa membuat donut lebih empuk dan enak daripada Dunkin Donuts, tetapi mengapa sampai sekarang tidak banyak yang bisa menjadi kompetitor serius bagi mereka? bahkan semakin banyak saja Investor yang membeli franchise mereka. Ini dikarenakan ada perbedaan diantara produk dan sistem.
Kita juga pasti sering melihat beberapa produk bagus yang baru beredar namun dalam hitungan waktu menghilang. Ada banyak MLM baru juga dengan produk yang bagus tapi tidak ditunjang dengan sistem yang baik lenyap ditelan waktu. Atau ada karyawan dari sebuah perusahaan sukses, keluar dari perusahaan itu dan mendirikan perusahaan karena yakin bisa memproduksi produk yang lebih bagus dari perusahaan tersebut, namun dalam hitungan tahun bisnisnya menurun dan akhirnya tutup. Walaupun banyak yang berhasil di tahun-tahun awal berdiri, namun akhirnya kewalahan ketika bisnisnya menanjak.
Ada 4 kuadran penghasilan seperti sering diucapkan oleh Robert T Kiyosaki, yaitu Karyawan (Employee), Pemilik Bisnis kecil (Self-Employeed), Pemilik Bisnis Besar (Business Owner), dan Investor. Karyawan sangat bergantung dengan kuadran B (Business Owner), jika perusahaan bangkrut maka karyawan adalah pihak yang tidak aman. Walaupun banyak yang menganggap menjadi karyawan adalah profesi yang aman karena selalu mendapatkan penghasilan tiap bulannya. Perhatikan saja saat ini, begitu banyak PHK yang terjadi karena krisis. Perusahaan bisa saja membekukan usahanya di saat krisis dan membuka lagi ketika situasi sudah membaik. Toh pemilik bisnis sudah memiliki kekayaan yang cukup untuk bertahan di saat krisis.
Kuadran S ( Self-Employeed ) diisi oleh tenaga ahli yang melakukan usaha sendiri, seperti designer, tukang cukur, salon, penjual toko kelontong, dokter praktek di rumah, atau tenaga ahli lainnya. Hasil memang lebih besar, namun perlu diingat kita memiliki batas dalam fisik. Jika sampai usia tua kita menjalankan pekerjaan sendiri maka bisa dipastikan kesehatan Anda akan cepat memburuk dan kemungkinan waktu untuk keluarga akan berkurang karena kita sibuk di bisnis tersebut.
Kuadran B (Business Owner) adalah pemilik bisnis yang tangguh. Saya sebut tangguh karena telah membangun sistem yang baik dan mempekerjaan orang-orang pintar. Hampir tidak ada campur tangan dari B dalam bisnisnya karena perusahaannya sudah berjalan dengan sendirinya sesuai sistem yang dibangunnya. Semua urusan kantor dan client diurus oleh manajernya. Ia bahkan bisa meninggalkan perusahaannya beberapa saat dan di saat kembali menemukan perusahaannya tetap berjalan dan bahkan lebih baik.
Kuadran Investor adalah orang yang memiliki modal yang besar dan mampu berinvestasi dengan uang tersebut untuk menghasilkan lebih banyak uang lagi. Seringkali Investor membeli sistem dari Kuadran B karena mereka malas membangun sistem dari awal. Membeli sistem dari kuadran B lebih dikenal dengan nama membeli franchise, contohnya KFC dan MacDonald. Jika Anda punya uang lebih maka Anda bisa membeli sistem mereka dan semua itu sudah berjalan tanpa campur tangan Anda.
Jadi disini sistem lebih penting daripada produk. Jika Anda tidak percaya bahwa jika Anda bisa membuat ayam goreng atau donut yang lebih lezat maka Anda bisa mengalahkan mereka, coba jawab dulu pertanyaan ini:
· Apakah Anda memiliki sistem untuk menstandarkan rasa di seluruh depot Anda?
· Apakah Anda bisa mendistribusikan ribuan kilo bahan pembuat donut ke seluruh depot Anda?
· Apakah Anda memiliki sistem untuk pemasaran?
· Apakah Anda memiliki karyawan yang tangguh?
· Apakah Anda bisa membuat depot Anda seragam baik dari interior, seragam pegawai maupun salam khas selamat datang dan terima kasih?
· mungkin pertanyaan paling penting, Apakah Anda masih perlu untuk terlibat penuh dengan usaha Anda?
Masih banyak pertanyaan lain yang bisa saya ajukan seperti apakah Anda memiliki planning atau rencana untuk mengembangkan usaha Anda. Namun saya kira pertanyaan di atas sudah cukup menjelaskan pentingnya sebuah sistem jika Anda ingin bisnis Anda berkembang dan sukses.
Jadi jika Anda ingin terjun ke bisnis atau mendirikan sebuah usaha, maka hal pertama yang perlu Anda perhatikan adalah sistem bisnis tersebut. Ketika sistem itu berjalan dengan baik maka campur tangan Anda akan semakin sedikit dan akhirnya Anda bisa melakukan aktifitas lain bersama keluarga atau mendirikan usaha lain. Produk memang penting tapi pikirkan dahulu sistemnya.
Untuk membangun bisnis besar memang diperlukan sistem dan produk yang baik. Coba pelajari ilmu bisnis seperti yang diajarkan bagi lulusan MBA atau jika punya uang lebih Anda bisa membeli sistem franchise dan mempelajarinya. Karena sistem mereka sudah direncanakan dan diuji dengan baik. Saran Robert T Kiyosaki adalah mengikuti MLM yang baik, karena dengan modal yang relatif kecil Anda bisa belajar tentang bisnis besar. MLM yang baik akan membantu anggotanya dalam mengembangkan jaringannya.
Semoga artikel ini bermanfaat.
Berada di Dua Kuadran – Bisnis
Sebut saja koh Aseng seorang pengusaha sukses di
bidang bahan bangunan di Yogyakarta yang tak pernah membiarkan ke-lima orang putra-putrinya menikmati bangku universitas, maka ketika salah satu putrinya nekad
meraih gelar Insinyur Teknik Sipil malah dimusuhi. Apa yang
terjadi dengan putra-putrinya yang rata-rata hanya lulusan SMU ? Bagi mereka telah tersedia sebuah toko bahan bangunan lengkap dengan isi dan modalnya.
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi, wong bapakmu ini SD saja
nggak lulus tapi bisa kaya” katanya berkobar-kobar seolah nggak mau kalah dengan isi artikel
“Kalau ingin kaya, ngapain sekolah !?” tulisan Purdi
E. Chandra.
Coba periksa, berapa banyak orang tua yang mau
berisiko seperti koh Aseng, berapa banyak yang suka anaknya hanya lulus SMP dan berapa banyak yang
rela anaknya drop-out ? Mungkin saja masih ada satu
diantara ribuan dan coba periksa apakah para pakar motivator yang sukses yang tak lulus SD atau drop out itu anaknya juga tak lulus SD atau ikut-ikutan drop-out
supaya sukses seperti orang-tua-nya? Nyaris tidak bakal menemukan orang tua yang tak ingin anaknya sekolah setinggi mungkin, kecuali karena alasan tak cukup biaya.
Seorang kawan yang bergelar doktor dan menjadi dosen
di sebuah universitas terang-terangan mengatakan bahwa perguruan tinggi tak ubahnya sebuah industri yang mencetak sarjana dalam waktu empat tahunan dan ketika
lulus dan masuk ke dunia kerja kalau dihitung-hitung secara
cermat, ternyata ilmu yang dibutuhkan untuk bekerja di bidang misal akuntansi hanya butuh sekolah selama setahun bahkan kursus 3 bulan saja sudah bisa kerja sebagai staf akuntansi. Tapi pada kenyataannya masyarakat lebih memilih bersekolah 4 tahun plus 2 tahun dari pada setahun yang hanya mengantungi gelar D1 atau D3.
Awal November 2004 Robert T. Kiyosaki berkunjung ke
Indonesia dan tidak sedikit mereka yang membaca buku-bukunya mendadak memiliki nyali untuk pindah kuadran dari employee menjadi entrepreneur, tanpa peduli kemudian
sukses atau gagal yang penting jadi entrepreneur. Ada
sementara orang yg melihat euphoria ini bertindak bagaikan dukun togel yang memotivasi setiap orang untuk terjun ke kuadran entrepreneur yang terlanjur dianggap lebih
bergengsi ini. Cukup beralasan menceburkan orang yang
baru ‘ingin’ berenang terjun ke sungai tanpa peduli bisa atau tidak bisa berenang dan lebih banyak publikasi bagi mereka yang sukses ketimbang yang malu dipublikasikan karena tenggelam alias gagal, alhasil yang nampak
hanyalah mereka yang sukses saja.
Ketika makan siang di sebuah restoran empek-empek di
bilangan Jakarta Utara terlontar pertanyaan ke pemilik restoran yang ternyata baru buka satu minggu tinggal di Jakarta hasil bedol desa sekeluarga dari Palembang.
Usut punya usut, ternyata tempat usahanya yang berupa
rumah tinggal harus dibayar senilai 120 juta untuk jangka waktu kontrak empat tahun. Luar biasanya mereka juga tidak paham dengan kota Jakarta, dan ketika saya tanyakan hal kenekatan mereka “Ini masih lebih bagus daripada saya
berjudi, kalau kalah bisa amblas tak bersisa, kalau saya usaha seperti ini seandainya kalah pun masih ada sisa” jawabnya enteng.
Didalam buku-bukunya hingga permainan Cash Flow Games
101 sebenarnya Kiyosaki mengajarkan kita untuk mengambil risiko yang terukur.
Seseorang yang ingin pindah kuadran perlu merencanakan dan menjalani proses transformasi dari employee ke entrepreneur secara bertahap. Paycheck adalah istilah gajian yang perlu ditabung dan mulai diaktifkan secara
cerdik dan strategis. Pergerakan menggeser kursi dari
lingkungan employee ke lingkungan entrepreneur sudah harus dimulai dan memanfaatkan waktu diluar jam kerja employee untuk berinteraksi dengan para entrepreneur
membantu merangsang aktifnya otak kanan. Membaca buku
dan majalah yang berhubungan dengan dunia usaha sangat positif untuk menambah wawasan.
Tak jarang internet bisa mempertemukan kita dengan peluang bisnis diluar jangkauan fisik bahkan benar-benar jauh diluar perkiraan kita.
Berorganisasi atau berkomunitas membawa kita ke dunia
yang berwarna-warni serta mengubah penampilan menjadi semakin bermakna.
Mengenal orang-orang sukses, berinteraksi dan belajar kepada mereka sangat membantu kita merangkak keluar dari tempurung kelapa yang kita diami selama ini.
Memiliki tujuan dan impian bidang bisnis yang ingin
kita raih adalah keharusan untuk mengaktifkan pikiran bawah sadar kita semakin fokus diikuti pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan.
Beberapa transaksi dengan teman, kolega hingga orang yang tak dikenal sangat berguna untuk mengasah naluri bisnis menjelang memasuki dunia bisnis yang sesungguhnya.
Ketika keputusan berinvestasi telah diambil bukan berarti kita harus pamit kepada bos kita saat itu juga, ada ribuan orang yang serempak bilang “mana mungkin ?” “You are what you think”, ketika kita berpikir “tidak mungkin”, demikianlah yang terjadi, sebaliknya ketika dengan tegar kita
mampu menghapus kata-kata “tidak mungkin” dalam kamus
kehidupan kita, niscaya tiada yang mustahil. Menginjakkan kaki kanan di employee dan kaki kiri di entrepreneur terkesan konservatif dan kurang totalitas, tetapi bisa menjadi alternatif pilihan yang bijaksana diantara ekstrim kanan
yang mungkin hanya menjadi kolektor buku-buku Kiyosaki di
zona kenyamanan atau ekstrim kiri yang langsung meninggalkan bos tanpa pijakan yang mantap.
“No Risk No Gain”, makin besar risiko yang diambil
makin besar untung atau rugi, hidup selalu demikian dan kita punya hak untuk secara bijak mengambil risiko yang terukur. Menginjakkan kaki di dua kapal boleh menjadi alternatif pilihan bijaksana sebelum kita menjadi entrepreneur yang sesungguhnya.
Fluktuasi Harga Emas
Logam mulia emas, ternyata menjadi salah satu pilihan investasi di tengah krisis. Harganya pun terus membumbung tinggi, semisal 24 karat sudah mencapai 375 ribu rupiah per gram.
Warga di Banjarmasin pun merasakan tingginya harga emas. Sejumlah pedagang emas di pasar Sentera Antasari Banjarmasin, Senin (23/02) mengakui cepatnya kenaikan harga emas, dibandingkan beberapa pekan lalu masih 330 ribu rupiah per gramnya.
Para pedagang memperkirakan, kenaikan harga akan terus terjadi. Pasalnya, fluktuasi kurs dolar AS terhadap rupiah masih belum stabil.Harga emas yang kian merangkak naik memberi sedikit keuntungan kepada warga yang menyimpan emas, seperti Ny.Nisa yang kegemarannya mengoleksi perhiasan emas.
Menurut Nisa, harga emas dari tahun ke tahun tidak akan turun dan pasti membawa keuntungan kepada pemiliknya atau bisa disebut sebagai sarana investasi pasti.
Sebaliknya apa yang dilakukan Nunung, dirinya menjual emas karena harga saat ini dianggap sangat menguntungkan. “Saya dahulunya membeli emas ini hanya 250 ribu rupiah per gramnya. Sedangkan saat ini dihargai hingga 370 ribu rupiah per gram,” tutur Nunung.
Salah seorang pedagang emas Irhamna menjelaskan, belakangan ini tokonya sepi pembeli. Namun jika dilihat hampir setiap hari tokonya penuh dikunjungi orang yang ingin menjual emas.
Irhamna mengakui, dengan membeli emas tokonya juga untung. Namun untuk emas perhiasan untungnya tidak terlalu banyak dan jika mau untung banyak maka emas yang dibeli dari masyarakat harus emas 24 karat dengan bentuk batangan.
Harga emas yang beberapa pekan lalu masih rendah, tidak tahu kenapa tiba-tiba harga tersebut berubah menjadi tinggi. Karena peralihan harga tersebut toko Irhamna setiap harinya bisa membeli emas 24 karat hingga kurang lebih seberat satu ons.(*o/a)
